Kamis, 23 Februari 2012

Self Motivasion, Menjadi Sang Juara


                Aku ingin juara satu, aku ingin menang olympiade, aku ingin menang dalam  lomba mengarang, aku harus menang dalam lomba basket kali ini, dst. Namun hasilnya mengecewakan. Anda semua tidak mendapatkan apa yang anda inginkan namun kali ini boleh gagal. Tetapi lain kali harus berhasil, apa ini takdir ataukah musibah. Jangan bersedih dan berkecil hati, mungkin anda sekalian belum bisa memenuhi kriteria atau belum waktunya.
 
Menjadi sang juara perlu proses, jangan dipikir instan. Sebelum anda berkompetisi, kenali lebih dulu siapa sebenarnya diri anda. Sudahkah siap atau belum, kuatkan mental anda untuk mengahadapi semua tantangan. Gantilah kata “masalah” yang anda hadapi, dengan kata “tantangan” apa yang terjadi.

Islam dan Dunia Mode Masa Kini


            Dunia mode adalah dunia yang penuh pesona dan penuh kegemerlapan. Apabila kita secara seksama mengikuti perkembangan dunia mode, maka sesuatu yang segera tampak dengan jelas adalah bahwa mode itu tidak statis, melainkan terus menerus mengalami perubahan (dinamis). Ini membuktikan bahwa manusia itu kreatif, selalu menciptakan hal-hal yang baru termasuk dalam lapangan mode. Dengan akalnya, manusia dapat  mengembangkan daya kreatifitasnya sehingga dapat menciptakan sesuatu sesuai seleranya. Berbeda dengan binatang yang tidak mempunyai akal, ia akan tetap mengulang pola kelakuannya yang itu-itu juga, setereotip. Seperti halnya sarang laba-laba, sejak ratusan tahun yang silam tetap sama dengan sarang laba-laba sekarang dan yang akan datang.
 
            Para perancang mode pakaian biasanya cenderung untuk “memodernisasi” potongan pakaian sesuai kreasi mereka. Hal ini dapat kita lihat betapa pesatnya perkembangan mode itu. Setiap saat ada saja kreasi-kreasi baru yang dengan sekejap mata telah merata.

Manfaat Gurah Bagi Penuntut Ilmu


              Gurah merupakan cara pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Dahulu ilmu gurah dikuasai oleh para Kyai atau guru mengaji untuk menggurah santri-santrinya agar suara menjadi bagus dan merdu dalam membaca ayat–ayat suci Al-Qur’an, praktek pengobatan ini juga dijalani pesinden, dalang juga qori’, ataupun qori’ah yang menginginkan suaranya nyaring. Namun, belakangan gurah juga ditujukan untuk mengobati asma dan menghilangkan dahak di tenggorokan. Arti gurah sendiri adalah membersihkan dan mengeluarkan lendir yang kotor, beracun dan mengandung berbagai kuman penyakit dalam tubuh. Lendir merupakan racun penyakit yang menghambat peredaran darah. 

KH. Shofwan Ridlwan, Penyabar Penuh Kharisma


 Diantara sekian banyak ulama’ di kabupaten kudus ini, terdapatlah seorang alim yang penuh kesabaran dan patut diteladani oleh masyarakat kudus umumnya dan santri TBS khususnya. Beliau adalah K.H. Shofwan Ridlwan, putra tertua dari 12 bersaudara pasangan H. A. Ridlwan dan Hj. Atmijah, salah satu keluarga terpandang di kalangan masyarakat desa Besito. Beliau dilahirkan pada tanggal 24 Agustus 1950 M bertepatan dengan 11 Dzul Qo’dah 1369 H.

Jenjang Studi
Beliau memulai tholabul ‘ilmi di Sekolah Rakyat (SR) desa Besito. Kemudian pada tahun 1963, beliau melanjutkan studinya di Madrasah TBS. Setelah lulus MTs (dikarenakan pada saat itu belum ada MA TBS), beliau bersama K.H. Abdul Manan (sepupu beliau) mondok di Pon-Pes Darul Falah Kauman, Jekulo, Kudus yang diasuh oleh K.H. Ahmad Basyir. Menurut penuturan K.H. Abdul Manan, pada saat itu beliau (K.H. Abdul Manan) tidak memiliki biaya untuk mondok, dan atas dorongan ayahanda K.H. Shofwan Ridlwan, beliau dapat mondok bersama-sama dengan K.H. Shofwan Ridlwan menggunakan biaya dari pemberian H. A. Ridlwan. Ketika mondok, K.H. Shofwan Ridlwan dikenal sebagai pribadi yang dermawan. Hal itu terbukti dengan tak pernah tertinggalnya K.H. Abdul Manan saat K.H. Shofwan Ridlwan jajan ke warung. Selama + 1 tahun, K.H. Abdul Manan selalu bergantung kepada keluarga K.H. Shofwan Ridlwan. Memasuki tahun kedua di pondok, K.H. Abdul Manan mencoba mandiri dengan hanya mengandalkan uang pemberian kakak beliau yang bekerja sebagai guru.

Setelah + 6 tahun mondok di Jekulo, K.H. Shofwan melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke pesantren di desa Tanggir, Sedan, Lasem asuhan K. Shoim. Sedangkan + 2 tahun sebelumnya, K.H. Abdul Manan melanjutkan mondok di Pondowan, Pati milik K.H. Muhammadun. Setelah + 2 tahun, K.H. Shofwan Ridlwan akhirnya menyelesaikan studinya di Lasem.

Pribadi yang Sabar
Sepulang dari mondok, beliau (K.H. Shofwan Ridlwan) mengalami pasang surut kehidupan. Tetapi, berkat kesabaran, kegigihan dan keteguhan hati beliau, semua itu dapat teratasi.
Memasuki tahun 1981, beliau mempersunting Ibu Mu’awanah, putri pasangan H. Maschan dan Hj. Wasi’ah yang berasal dari Cirebon. Beliau sempat tinggal beberapa tahun di Cirebon. Setelah itu beliau bermukim di Kudus tepatnya di desa Damaran dan mulai berkhidmah untuk Madrasah TBS atas permintaan pengurus Madrasah. 

Sifat sabar beliau semakin terlihat dengan belum dikaruniai putra padahal pernikahan beliau sudah mencapai usia belasan tahun. Meskipun demikian, beliau mendapat fadhal (anugrah) dari Allah yakni menunaikan ibadah haji untuk pertama kali bersama sang istri. Beberapa tahun sepulang ibadah haji, istri beliau berpulang ke Rahmatullah tepatnya pada tahun 1997. Pada tahun 1999, beliau menikah untuk kali kedua dengan Ibu Kuntum Zahrotul Ummah.

Aktifitas Sehari-hari
Keseharian beliau hanya digunakan untuk mengajar saja, tak lebih. Setiap pagi beliau mengajar di MTs dan MA NU TBS dan sorenya beliau mengajar di MADIPU TBS. Setiap jumu’ah fajar ba’da shubuh, beliau mengisi pengajian di Musholla dekat rumah beliau. Beliau juga mengisi pengajian bergilir dari rumah ke rumah. Selain itu, beliau menjadi imam Tarawih dan Khotib di Masjid Hidayatul Abidin mulai tahun 2008. Beliau juga melestarikan sholat witir hingga akhir hayat beliau.

Sifat-sifat Beliau
Beliau adalah pribadi yang lembah manah (sabar). Sifat yang memasyarakat dan naluri sosial yang begitu tinggi, menjadikan beliau sebagai teladan bagi keluarga. Pernah suatu ketika, beliau diminta tolong oleh tetangga, padahal pada saat itu beliau sedang sakit. Namun, atas dasar mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi, beliaupun menyanggupinya. Beliau sangat tawaddhu’. Oleh K.H. Abdul Manan, beliau sering disapa dengan sebutan ‘Kang Kaji’.

Pesan beliau
Beliau memberikan sebuah pesan melalui istri beliau yaitu sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain. Pada saat sakit beliau seringkali berdo’a sampai-sampai mertua beliau yang selalu menunggui beliau, hafal akan do’a itu. Berikut do’a beliau:
لا اله الله الواحد القهار رب السموات والأرض وما بينهما العزيز الغفار
Akhir Hayat Beliau
Awalnya belau menderita penyakit stroke pada saat mengerjakan raport. Beliaupun sempat dirawat di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus selama  + 20 hari. Selama 1 minggu beliau masuk ruang ICU. Setelah itu, beliau dipulangkan ke rumah. Tak lama setelah itu, beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 5 Rajab 1429 H bertepatan denga tanggal 6 Juni 2008 M diiringi kesedihan yang mendalam bagi sanak famili dan Keluarga Besar Madrasah TBS Kudus. Beliau meninggalkan seorang istri dan 2 orang putra yakni M. Saiful Fahmi (8 tahun) dan M. Muthohhar A (6 tahun).
Demikian sekelumit kisah tentang perjalanan hidup seorang alim lagi penyabar. Semoga kita dapat meneladani sifat-sifat beliau. Tak lupa juga, semoga beliau diterima di sisi-Nya dan senantiasa dirahmati oleh-Nya. Amin...
                                                                                                            reported by: tri, yazid, afa
Sumber:
1.       K.H. Abdul Manan Al Hafidz (teman sekaligus sepupu)
2.       Ibu Kuntum Zahrotul Ummah (istri)
3.       Ibu Aminah (mertua)
4.       Ibu Hj. Siti Su’adah (adik)

Abdus Salam, Muslim Pertama Peraih Nobel


           Tanah kelahirannya adalah Pakistan, negeri yang tak pernah lekang memaut kecintaannya sampai akhir hayatnya. Abdus Salam dilahirkan pada 29 Januari 1926 di kota Jhang, tidak jauh dari Lahore di Propinsi Punjab. 

Fisikawan terbaik
Pada umur 14 tahun ia lulus ujian matrikulasi untuk Universitas Punjab di Lahore dengan angka tertinggi yang pernah dicatat. Konsentrasi studinya adalah matematika dan fisika, tetapi ia juga tekun mempelajari agama, filsafat, dan literatur. Dengan beasiswa ''Foundation Scholar'' membawanya ke Universitas Cambridge di St. John's College. Di Cambridge ia mengambil ''Mathematics Tripos II'' dan ''Physics Tripos II'' (1946-1949), lulus sebagai ''Wrangler'' (peringkat pertama) dalam tradisi Universitas Cambridge yang didirikan pada 1231. Menjadi mahasiswa peneliti (1951) yang menyelesaikan tesis Ph.D dalam waktu lima bulan, yaitu suatu sumbangan orisinal yang penting tentang ''Renormalisasi'' (menghilangkan bentuk tak terhingga) dalam teori Meson.

Ar-Razzi, Pencetus Kedokteran Modern


Salah satu ilmuwan muslim yang menghiasi sejarah adalah Ar-Razzi. Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakariyya Ar-Razzi. Di barat beliau dikenal dengan sebutan Razhez. Beliau lahir pada tahun 240 H / 854 M di ibukota Rayy dekat Tehran dan meninggal pada tahun 320 H / 932 M.
Ar-Razzi merupakan penulis muslim pertama dibidang medis. Selain bidang kedokteran beliau belajar ilmu Matematika, Astronomi, Logika, Sastra, Kimia, dan Filsafat. Ar-Razzi bahkan sempat belajar musik dan beliau sangat pandai bermain kecapi. Berkat kepandaian ini, beliau berhasil menciptakan metode penyembuhan pasien dengan bantuan musik.

Pada suatu hari penguasa kerajaan Baghdad meminta Ar-Razzi untuk mendirikan rumah sakit. Beliau menggunakan cara yang sangat baik untuk memilih tempat pendiriannya. Ar-Razzi meletakkan potongan daging ditempat-tepat yang akan dijadikan lokasi didirikannya rumah sakit tersebut.

Multidefinisi dan Segi Teknis Kitab Kuning


Istilah kitab kuning pada mulanya diperkenalkan justru oleh kalangan luar pesantren sekitar dua dasawarsa silam dengan pandangan yang seolah-olah merendahkan. Menurut mereka, kitab kuning itu berbobot rendah, ketinggalan zaman, dan menyebabkan terjadinya stagnasi berpikir umat. Memang pernyataan semacam ini sangat menyakitkan, tapi toh kemudian istilah kitab kuning itu sendiri dapat diterima sebagai salah satu istilah teknis dalam studi kepesantrenan, meskipun masih banyak kalangan yang lebih apresiatig menyebut kitab kuning  dengan istilah yang lebih valid terhadap format kitab kuning itu sendiri, seperti kitab klasik dan al-kutub al-qadimah.

Selain itu, karena tidak dilengkapi dengan sandangan, kitab kuning juga kerap disebut dengan istilah “kitab gundul”, dan karena rentang waktu sejarah

About Magazine

Foto saya
ATH THULLAB adalah majalah tahunan Madrasah NU TBS Kudus, yang di terbitkan oleh segenap PP-IPNU MA NU TBS. ATH THULLAB sekarang sudah mengijak pada edisi 17 dengan tampilan yang apik dan mengalami rovolusi serta pembaruan di berbagai rubrik. Akhir kata, Selamat membaca..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More