Tanah kelahirannya adalah Pakistan, negeri yang tak pernah lekang memaut kecintaannya sampai akhir hayatnya. Abdus Salam dilahirkan pada 29 Januari 1926 di kota Jhang, tidak jauh dari Lahore di Propinsi Punjab.
Fisikawan terbaik
Pada umur 14
tahun ia lulus ujian matrikulasi untuk Universitas Punjab di Lahore dengan
angka tertinggi yang pernah dicatat. Konsentrasi studinya adalah matematika dan
fisika, tetapi ia juga tekun mempelajari agama, filsafat, dan literatur. Dengan
beasiswa ''Foundation Scholar'' membawanya ke Universitas Cambridge di
St. John's College. Di Cambridge ia mengambil ''Mathematics Tripos II'' dan
''Physics Tripos II'' (1946-1949), lulus sebagai ''Wrangler'' (peringkat
pertama) dalam tradisi Universitas Cambridge yang didirikan pada 1231. Menjadi
mahasiswa peneliti (1951) yang menyelesaikan tesis Ph.D dalam waktu lima bulan,
yaitu suatu sumbangan orisinal yang penting tentang ''Renormalisasi''
(menghilangkan bentuk tak terhingga) dalam teori Meson.
Dari Fakultas
Sains Universitas Cambridge ia dipandang sebagai salah satu dari ahli fisika
teoretis terbaik di dunia. Pada 1950 ia memenangkan Hadiah Smith di Cambridge
karena sumbangan yang luar biasa dalam fisika untuk kategori pra-doktor. Sejak
itu ia secara kontinyu menggali lapisan dasar tambang sains. Abdus Salam
mengambil peran utama dalam setiap usaha membuka drama penemuan dan pemahaman
entitas primer dari fisika kuantum. Mengherankan bahwa seorang yang juga begitu
aktif dalam masalah politik bisa menerbitkan 2250 hasil karya ilmiah berasas
tinggi, puluhan di antaranya seminal bagi fisika partikel elementer!.
Ilmuwan religius
Dapat
dikatakan akan Salam adalah dua sosok manusia yang berfusi dalam satu tubuh
menghasilkan keajaiban manusia. Ia adalah seorang cendekiawan sekaligus ulama.
Sebagai cendekiawan, yaitu ilmuwan fisika teoretis, ia adalah pengikut akhir
dari tradisi fisikawan klasik. Baginya ruang lingkup intelektual sains ialah
memanunggalkan hukum-hukum alam yang terdiri dari secukupnya prinsip/asas
sederhana, di mana kemanunggalan agung adalah salah satu prinsip. Pencarian
tapak ini dimulai pada zaman Yunani Kuno dan dilanjutkan dalam Islam oleh
Al-Biruni (973-1050 M) yang menegaskan bahwa alam memiliki hukum yang sama di
mana saja, di Bumi atau di Bulan. Dengan diwujudkannya pertemuan dua peradaban
ini maka dimuilah sains modern dari Galileo ke Einstein, Salam telah memberikan
sumbangan fundamental dengan teori electroweak, yaitu kemanunggalan gaya
elektromagnetisme dengan gaya nuklir lemah yang dihargai oleh dunia masyarakat
sains dengan Hadiah Nobel Fisika 1979.
Abdus Salam
tidak percaya adanya konflik antara sains dengan Islam. Ia menegaskan bahwa
dari tahun 750-1100 M hampir seluruh sains adalah sumbangan Islam, yang menurut
George Sarton (A History of Science ) secara tak putus serta berturut-turut
adalah zamannya Jabir, Khawarizmi, Haytham, Razi, Masudi, Wafa, Biruni, Ibn
Sina, Omar Khayyam dll. Arab, Turki, Afghani, dan Irani. Dan ia sendiri hanya
berusaha mengobarkan kembali tradisi itu.
Meskipun
orang tuanya mengikuti salah satu sekte dalam Islam (Ahmadiyah), Salam mengaku
tidak ikut sekte manapun. Baginya hanya ada satu Islam dengan sumber Alquran
dan Hadis, serta kemampuan individu untuk memahaminya menurut kepercayaan
imannya dan keyakinan pikiran serta intuisi bagi dirinya sendiri yang harus
dipertanggungjawabkan di kehidupan akhirat.
Nobel di akhir hayat
Selain Abdus Salam,
tokoh berpengaruh dalam bidang sains ialah Ishrat Usmani, Ketua Komisi Tenaga
Atom Pakistan. Menurut Usmani, ''Kebanyakan usaha keilmiahan di Pakistan
ditimbulkan oleh imajinasi Abdus Salam dan bobot pengaruh pribadinya. Abdus
Salam adalah simbol kebanggaan dan gengsi bangsa Pakistan dalam dunia
keilmiahan. Karena pengaruhnya maka penghargaan berlebih-lebihan yang
sebelumnya diberikan kepada seni dan ilmu-ilmu sosial dengan mengorbankan sains
telah dipatahkan. Presiden Ayub Khan sendiri membagi kegairahan perhatian Abdus
Salam pada penerbitan buku-buku pelajaran sains. Bertambah banyak mahasiswa
mengambil studi sains di universitas.'' Abdus Salam menderita stroke, dan
dengan itu ia tak bisa berfungsi lagi sebagai Direktur ICTP.
Sebagai
penghormatan kepada pendirinya, selama ia masih sanggup menilainya sebelum
kekuatannya hilang sama sekali, di Trieste diadakan 3 hari pertemuan fisika
yang dihadiri oleh rekan, pengagum dan mantan mahasiswa dari seluruh penjuru
dunia. Salah seorang ialah Yang Chen-Ning (penerima Hadiah Nobel Fisika 1957)
yang pembicaraannya dalam seminar di Seattle pada 1956 memberikan kesan mendalam
kepada Salam untuk meneliti lebih dalam tentang simetri di dalam alam materi. Puncak
dari pertemuan ini adalah pemberian gelar honoris causae (yang ke-35)
dari Universitas St. Petersburg (dahulu Leningrad). Rektor Universitas khusus
datang memberikannya. Salam mendengarkan sambil duduk di atas kursi roda tetapi
ia tak bisa berbicara lagi.
Sesudah upacara resmi, peserta tenang berdiri
berbaris masing-masing menyampaikan ucapan selamat. Cuma sedikit reaksi yang
diperlihatkannya, tetapi semuanya mengharap bahwa pesan mereka tersampaikan
kepada tubuh yang lumpuh serta bisu itu. Sesudah nama-nama besar, maka datang
giliran peneliti muda. Yang terakhir adalah seorang peneliti muda yang gugup
berasal dari Pakistan. Ketika ia membungkuk ke arah Salam yang duduk di kursi
roda itu, ia berkata ''Pak, saya adalah mahasiswa dari Pakistan. Kami sangat
membanggakan Bapak.'' Bahu Abdus Salam tampak tergetar dan air mata pun
mengalir di pipinya. Sesudah tak sanggup lagi berkomunikasi selama tiga tahun
terakhir oleh penyakit yang melumpuhkan, ruh itu meninggalkan jasadnya pada 20
November 1996 di Oxford, diiringi oleh doa Salam sendiri, jauh dari tanah air
yang dicintainya. Tanah Inggris menyimpan jasadnya.
Sumber: Mutiara Peradaban Islam: Abdus salam (I) Says: 29, May, 2007Majalah Islamia vol.III no. 1, penerbit Insists,W.J wopakrik, 2002, Dari atom hingga quark, penerbit KPG, jakarta
0 komentar:
Posting Komentar