Rabu, 08 Juli 2009

KEDUDUKAN GURU DALAM PANDANGAN ISLAM

Salah satu hal yang amat menarik pada ajaran Islam ialah penghargaan Islam yang sangat tinggi terhadap guru. begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan Nabi dan Rasul. Mengapa demikian? Karena guru selalu terkait dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan Islam amat menghargai ilmu. Pengahargaan Islam terhadap ilmu tergambar dalam sebuah sebuah hadits:
إذا قبض العالم .....
Artinya: "Apabila seorang alim meninggal maka terjadilah kekosongan dalam Islam yang tidak dapat diisi kecuali oleh seorang alim yang lain."

Kita menemukan banyak sekali hadits yang mengajarkan betapa tinggi kedudukan orang berpengetahuan yang biasanya dihubungkan pula dengan orang yang menuntut ilmu. Al-Ghazali menjelaskan kedudukan sangat tinggi yang diduduki oleh orang berpengetahuan dengan ucapannya bahwa orang alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar di semua kerajaan langit. Dia seperti matahari yang menerangi alam. Ia mempunyai cahaya dalam dirinya. Seperti minyak wangi yang mengharumi orang lain karena ia memang wangi.
Kedudukan orang alim dalam Islam dihargai tinggi bila orang itu mengamalkan ilmunya. Mengamalkan ilmu dengan cara mengajarkan ilmu itu kepada orang lain adalah suatu pengamalan yang paling dihargai oleh Islam. Mengutip kitab Ihya’ Al-Ghazali yang mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting.

Sebenarnya tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri. Islam memuliakan pengetahuan; pengetahuan itu didapat dari belajar dan mengajar. Yang belajar adalah calon guru dan yang mengajar adalah guru. Maka tidak boleh tidak, Islam pasti memuliakan guru. Tak terbayangkan terjadinya perkembangan pengetahuan tanpa adanya orang belajar dan mengajar dan tak terbayangkan pula adanya belajar dan mengajar tanpa adanya guru.

Tingginya keudukan guru dalam islam masih dapat disaksikan secara nyata pada zaman sekarang. Itu dapat kita lihat terutama di pesantren-pesantren di Indonesia. Santri bahkan tidak berani menantang sinar mata kyainya. Sebagian lagi membungkukkan badan tatkala mengahadap rumah kyainya. Bahkan, konon ada santri yang tidak berani kencing menghadap rumah kyai sekalipun berada dalam kamar yang tertutup. Betapa tidak, mea silau oleh tingkah laku kyai yang begitu mulia, sinar matanya yang ‘menembus’, ilmunya yang luas dan dalam, do’anya yang diyakini mujarab.

Ada penyebab khas mengapa orang Islam amat menghargai guru, yaitu pandangan bahwa ilmu itu semuanya bersumber pada Tuhan. Oleh sebab itu, Allah azza wa jalla berfirman:
.....Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.... (Al-Baqarah: 32)
Ilmu datang dari Tuhan. Guru pertama adalah Tuhan. Pandangan yang menembus langit ini tidak boleh tidak telah melahirkan sikap pada orang Islam bahwa ilmu itu tidak terpisah dari Allah, ilmu tidak terpisah dari guru. Maka kedudukan guru amat tinggi dalam Islam.
Pandangan ini selanjutnya akan menghasilkan bentuk hubungan antara guru dan murid. Hubungan guru-murid dalam Islam tidak berdasarkan hubungan untung-rugi dalam arti ekonomi yang menyebabkan pernah muncul pendapat di kalangan ulama’ Islam bahwa guru haram mengambil upah (gaji) dari pekerjaan mengajar. Hubungan murid-murid dalam Islam pada hakekatnya adalah hubungan keagamaan, suatu hubungan yang mempunyai niali kelangitan.

Kedudukan guru yang demikian tinggi dalam Islam kelihatannya memang berbeda dari kedudukan guru di dunia Barat. Perbedaan itu jelas karena di Barat kedudukan itu tidak memiliki warna kelangitan. Hubungan guru-murid juga berbeda. Perbedaan itu juga karena hubungan guru-murid di Barat tidak lebih dari sekedar orang yang pengetahuannya lebih banyak daripada murid. Hubungan guru-murid juga tidak lebih dari sekedar pemberi dan penerima. Karenanya maka wajarlah bila di Barat hubungan guru-murid adalah hubungan kepentingan antara pemberi dan penerima jasa (dalam hal ini pengetahuan). Karena itu, hubungan juga dilihat oleh pembayaran yang dilakukan berdasarkan perhitungan ekonomi.

Dalam sejarah, hubungan guru-murid dalam Islam ternyata sedikit demi sedikit berubah. Nilai-nilai ekonomi sedikit demi sedikit mulai masuk. Yang terjadi sekarang kurang lebih sebagai berikut:
Kedudukan guru dalam Islam semakin merosot
Hubungan guru-murid semakin kurang bernilai kelangitan, penghormatan murid kepada guru semakin turun
Harga-harga mengajar semakin tinggi
Apakah gejala ini merupakan penyimpangan dari kehendak Islam? Ini memerlukan perenungan yang mendalam.. secara lahiriah kita dapat mengatakan bahwa kedudukan guru, penghormatan murid, dan upah guru dalam islam sekarang ini semakin bergeser kepada nilai-nilai Barat.
Kita sebagai pelajar muslim seharusnya menghormati guru karena betapa tingginya kedudukan guru dalam agama Islam. Semoga dengan penghormatan itu kita mendapatkan barokah dari guru tersebut. Amiin.

Oleh: Ahmad Izzul Falah
Penulis adalah siswa kelas XI IPA 1

Referensi: - Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam
- Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat

0 komentar:

Poskan Komentar

About Magazine

Foto Saya
ATH THULLAB adalah majalah tahunan Madrasah NU TBS Kudus, yang di terbitkan oleh segenap PP-IPNU MA NU TBS. ATH THULLAB sekarang sudah mengijak pada edisi 17 dengan tampilan yang apik dan mengalami rovolusi serta pembaruan di berbagai rubrik. Akhir kata, Selamat membaca..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More